Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar momentum untuk mengenang kelahiran seorang Rasul yang mulia. Lebih dari itu, Maulid adalah momentum untuk bertanya kepada diri kita sendiri: sejauh mana kita telah menghadirkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan bangsa hari ini?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting di tengah kehidupan masyarakat yang berubah sangat cepat.
Kita hidup dalam zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memeriksanya. Ruang digital dipenuhi perdebatan, pertentangan, tuduhan, kemarahan, bahkan informasi yang belum tentu benar.
Di tengah situasi seperti itu, kita membutuhkan kembali sesuatu yang menjadi inti ajaran Rasulullah SAW: akhlak.
Kementerian Agama pada peringatan Maulid Nabi 1448 H/2026 M juga menekankan bahwa akhlak merupakan fondasi peradaban. Ketika akhlak tegak, keadilan dapat tumbuh, ilmu pengetahuan memberi manfaat, kekuasaan dijalankan dengan amanah, dan kasih sayang menjadi perekat kehidupan masyarakat.
Bagi saya, pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi Indonesia hari ini.
Kita tidak kekurangan orang pintar. Kita membutuhkan lebih banyak orang yang berakhlak.
Kita tidak kekurangan informasi. Kita membutuhkan lebih banyak kejujuran dalam menyampaikan informasi.
Kita tidak kekurangan kekuasaan. Kita membutuhkan amanah dalam menjalankan kekuasaan.
Dan kita tidak kekurangan ruang untuk berbicara. Kita membutuhkan kebijaksanaan dalam menggunakan kebebasan berbicara.
Rasulullah SAW memberikan contoh bahwa kepemimpinan bukanlah tentang seberapa besar kekuasaan yang dimiliki seseorang, melainkan seberapa besar tanggung jawabnya terhadap manusia yang dipimpinnya.
Karena itu, Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum untuk melakukan koreksi bersama.
Kepada para pemimpin, jadikan kekuasaan sebagai amanah, bukan sekadar kewenangan.
Kepada masyarakat, jadikan perbedaan sebagai kekayaan, bukan alasan untuk saling bermusuhan.
Kepada generasi muda, jadikan teknologi sebagai sarana membangun peradaban, bukan alat untuk menyebarkan kebencian.
Dan kepada insan pers serta media digital, jadikan informasi sebagai amanah publik, bukan sekadar komoditas untuk mengejar perhatian.
Di sinilah JAMIRA ingin mengambil posisi.
JAMIRA memandang bahwa media memiliki tanggung jawab moral yang jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan berita.
Media harus menjadi bagian dari solusi bangsa.
Di tengah derasnya disinformasi, media harus menjadi ruang yang menghadirkan fakta.
Di tengah meningkatnya polarisasi, media harus menjadi ruang yang menghadirkan keseimbangan.
Di tengah kegaduhan, media harus menghadirkan akal sehat.
Dan di tengah maraknya kepentingan, media harus tetap memiliki keberanian untuk mempertahankan integritas jurnalistik.
Semangat tersebut sejalan dengan keteladanan Rasulullah SAW yang menempatkan kejujuran, kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama sebagai bagian penting dalam membangun masyarakat. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, nilai-nilai tersebut juga relevan untuk menjaga persatuan dan kebhinnekaan.
Karena itu, Maulid Nabi tidak boleh berhenti di masjid, di panggung-panggung seremonial, atau pada lantunan shalawat semata.
Nilai Maulid harus hadir di ruang publik.
Hadir di ruang pemerintahan.
Hadir di dunia pendidikan.
Hadir di dunia usaha.
Dan tentu saja, hadir di ruang digital.
Sebab, di era ketika satu unggahan dapat memengaruhi ribuan bahkan jutaan manusia, akhlak digital menjadi bagian dari akhlak manusia itu sendiri.
Mari kita jadikan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H sebagai momentum untuk kembali bertanya:
Apakah kita hanya mencintai Rasulullah melalui ucapan, atau benar-benar berusaha meneladani akhlaknya dalam kehidupan?
Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan.
Indonesia membutuhkan kejujuran.
Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan.
Indonesia membutuhkan keadilan.
Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kebebasan berbicara.
Indonesia membutuhkan tanggung jawab.
Dan Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar banyaknya pemimpin.
Indonesia membutuhkan keteladanan.
Atas nama Jaringan Media Indonesia Raya (JAMIRA), saya mengajak seluruh insan media, masyarakat, tokoh agama, generasi muda, dan para pemimpin bangsa untuk menjadikan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum memperkuat persaudaraan, menjaga persatuan, merawat kebhinnekaan, serta mengembalikan akhlak sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H.
Semoga kecintaan kita kepada Rasulullah SAW tidak berhenti pada perayaan, tetapi menjelma menjadi keteladanan dalam sikap, kejujuran dalam perkataan, keadilan dalam keputusan, dan kasih sayang dalam kehidupan.
RM GUSTI HAES
Ketua Umum
Jaringan Media Indonesia Raya (JAMIRA)




